Tombak Pusaka Langka Sipat Kelor (Termahar)

Tangguh Mataram. Luk 3 (tiga)

Dimaharkan Tombak Pusaka Luk 3

Pamor: Pedaringan Kebak (tempat beras terisi penuh, angsar untuk kerejekian). Keluarnya pamor pandes momyor/semeblak. Warangan baru (foto sebelum warangan tersedia).

Foto sebelum dan sesudah warangan

Panjang wilah/pesi: ± 23 cm/ ± 12,5 cm

Disandangi dengan warangka tombak gaya Yogyakarta (plituran baru)

Pasikutan dhemes. Warangka lamen/lawas gaya Yogyakarta dengan plitur baru.

Tombak Sipat Kelor merupakan salah satu dhapur tombak luk 3 (tiga). Luknya mulai pertengahan wilah, sedangkan pangkalnya lurus. Pada bagian permukaan ujung rata, namun mulai 3-4 cm di bawah pucuk timbul ada-ada. Pesi tombak memiliki pluntiran (lihat foto).

Pesi tombak memiliki pluntiran

Sepintas seperti Tombak Panggang Lele, bedanya Sipat Kelor lebih ramping, tanpa bungkul, dan luknya mulai pertengahan wilah. Kebanyakan Tombak Sipat Kelor dibuat khusus untuk tombak PUSAKA, bukan untuk keperluan perang. Walaupun bentuknya sederhana, tombak Sipat Kelor tergolong langka, jarang dijumpai (sumber: Buku Ensiklopedi Keris oleh Bambang Harsrinuksmo).

Ingin tahu cerita dibalik didapatkannya tombak ini? Silahkan klik artikel berikut ini.

Merupakan tombak pusaka, bukan untuk tujuan perang

Dimaharkan tanpa landheyan (hanya wilah dan warangka saja). Cocok bagi anda yang mencari tombak pusaka langka sebagai “pegangan” dalam mencari rejeki.

Keluarnya pamor pandes momyor/semeblak
Pamor pedaringan kebak (artinya tempat beras terisi penuh), angsar kerejekian

Termahar ke Jember

Tombak Pusaka Langka Sipat Kelor Tangguh Mataram

Sebagai bagian dari Tosan Aji, tombak memanglah tidak sepopuler keris. Namun harus diakui, tombak memiliki daya tarik dan kharismanya sendiri. Dengan wujud seperti banyak kita kenal, tombak memberikan kesan gagah, garang dan tangkas bagi seorang Kesatria, tatkala ia harus menghadapi musuh dari atas kuda perang misalnya. Sebagai bagian dari pusaka ampuh yang digunakan untuk menghadapi lawan di medan perang, tombak memang membutuhkan keahlian khusus untuk menggunakannya.

Tombak pusaka langka dhapur Sipat Kelor

Contoh Kesatria dengan kesaktian pusaka tombaknya kemudian berhasil melumpuhkan musuhnya antara lain Sutawijaya yang berhasil membunuh Arya Penangsang, Adipati Jipang dengan Tombak Kiai Plered. Tombak legendaris ini kemudian menjadi simbol berdirinya Kerajaan Pajang yang dipimpin Sultan Hadiwijaya.

Tombak dhapur langka Sipat Kelor dengan background tanaman Cincau Hitam (Mesona palustris BL)

Ada lagi tombak sakti Kiai Baru Klinthing, milik Ki Ageng Wanabaya, penguasa Mangir. Tombak yang dimitoskan berasal dari lidah Naga ini sangat ditakuti, bahkan juga membuat gentar seorang Raja sekelas Panembahan  Senopati. Walaupun akhirnya Panembahan Senopati berhasil membunuh Ki Ageng Mangir dengan tipu muslihat, namun sama sekali bukan karena menaklukan tombak pusaka bernama Kiai Baru Klinthing itu.

Keterangan dari tombak dhapur Sipat Kelor

Penulis sendiri mendapat keberuntungan dengan mendapatkan Tombak Pusaka yang tergolong langka karena berdhapur Sipat Kelor. Kebanyakan dhapur tombak Sipat Kelor dibuat khusus sebagai Tombak Pusaka, bukan untuk keperluan perang.

Koleksi tombak Sipat Kelor, dibuat untuk pusaka bukan untuk perang

Beberapa ciri khas tombak dhapur Sipat Kelor adalah mempunyai luk 3 (tiga). Luknya mulai pertengahan bilah, sedangkan bagian pangkalnya lurus. Tombak ini juga tidak memakai bungkul. Walaupun bentuknya sederhana, tombak dhapur Sipat Kelor termasuk langka, jarang dijumpai.

Dipadankan dengan kayu Walikukun sebagai landeyan/gagang tombak

Penulis mendapatkan tombak tersebut dalam kondisi kotor dan tidak terawat. Namun setelah diwarangi tampak berpamor Pedaringan Kebak, artinya tempat beras terisi penuh. Dengan angsar/doa/filosofi kerejekian dan kemakmuran bagi pemiliknya. Dipadankan dengan landeyan/gagang tombak dari kayu Walikukun.

Kondisi saat masih kotor/belum diwarangi (sebelah kanan)

Kayu walikukun banyak ditemukan di hutan berhawa panas dengan sifat ulet dan keras, sehingga cocok digunakan sebagai landeyan/gagang tombak. Pohon Walikukun juga sudah sejak lama digunakan sebagai penawar pekarangan angker dengan cara ditanam di semua sudut pekarangan tersebut.