Keris Pusaka Berdhapur Sederhana: Tilam Upih

Pusaka dalam kamus Bahasa Indonesia berarti sesuatu yang berharga dan memberi manfaat, dimana manfaat itu hanya diperoleh bagi yang mengetahui makna atau pesan yang tersirat dalam wujud keris tersebut.  Termasuk Keris bagi masyarakat Jawa, sudah menjadi benda yang disebut sebagai pusaka turun temurun. Di daerah lain, Tilam Upih biasa juga disebut Tilam Pethak atau Tilam Putih.

Keris Dhapur Tilam Upih Tangguh Majapahit koleksi saya

Menariknya, keris yang sering dijadikan pusaka keluarga turun temurun di masyarakat Jawa hanya berdhapur sederhana yaitu Tilam Upih. Bagaimana tidak sederhana? Karena Tilam Upih adalah keris lurus dengan hanya mempunyai ricikan Gandik lugas/polos, Tikel alis, dan pejetan. Tanpa ada ricikan lain. Dengan rancang bangun yang sederhana ini, justru seringkali Tilam Upih menjadi media ekspresi Empu untuk membuat pamor rekan karena pamor dapat ditonjolkan dengan leluasa tanpa terganggu bentuk dhapur. Pamor rekan disini sebagai contoh Tri Warno, Ron Genduru, Blarak Sineret, atau Wengkon.

Terdapat pamor tiban yaitu Pamor Nur di bagian sor-soran

Walaupun cukup sederhana, sebagai pusaka dhapur ini memuat makna filosofis. Tilam Upih dapat diartikan tidur pada alas (semacam tikar yang terbuat dari anyaman daun kelapa). Dasar filosofi keris Tilam Upih adalah tidur pada sebuah landasan, memberi makna kepasrahan diri, penyerahan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kepasrahan total yang sempurna dimana seseorang seolah kembali kepada Tuhan. Tidur dalam konteks “Ilmu Jawa” juga merupakan lambang ketentraman dalam kehidupan secara lahir dan batin. Tidur bisa dikatakan sebagai suatu kematian sementara. Dalam tidur tidak ada angan-angan, tidak ada kesadaran dan merupakan kondisi kepasrahan total.

Pasikutan Wingit khas Tangguh Majapahit

Upih merupakan simbol pohon kelapa yang sangat tahan terhadap hama penyakit. Semua bagian pohon kelapa bermanfaat dan dapat digunakan untuk kebutuhan manusia, tidak ada yang terbuang sia-sia. Bahkan orang Indonesia tidak bisa lepas dari kelapa untuk menu masakan sehari-hari. Hal tersebut juga menggambarkan bahwa manusia harus senantiasa dapat bermanfaat bagi keluarga, lingkungan sekitar dan bangsanya. Sebilah keris berdhapur Tilam Upih yang sangat sederhana, ternyata sarat dengan pesan terhadap kehidupan manusia secara mendalam

Kesederhanaan yang tercermin dalam Keris dhapur Tilam Upih ternyata juga tercermin dalam Pusaka Karaton, dimana berdasarkan informasi yang saya terima, seringkali Pusaka Karaton juga berpenampilan sederhana. Misalnya yang bergelar Kanjeng Kyai Ageng jarang berkinatah kamarogan karena pertimbangan keampuhannya. Jika ditemui dengan gebyar kinatah emas biasanya keris tersebut bergelar Kyai sebagai pendherek (pendamping), atau keris milik Saudagar maupun Bangsawan.

Keris di Karaton yang bergelar Kanjeng Kyai apalagi yang bergelar Kanjeng Kyai Ageng dipastikan ampuh. Selain dibuat oleh Empu yang terkenal, kerisnya juga wingit/angker karena selalu “disingit”. Disingit adalah Bahasa Jawa  yang artinya kurang lebih “saya dadi wingit”atau benda yang di aji-mantera agar semakin menjadi wingit/angker. Dalam tradisinya, ritual jamasan Pusaka di Karaton Surakarta dilaksanakan pula Sidhikara (dimanterai) pada hari-hari tertentu oleh Sinuhun dalam rangka perawatan Pusaka-Pusaka Karaton Surakarta.

Contoh Pusaka Keris Tilam Upih bergelar Kanjeng Kyai/Kanjeng Kyahi

Pusaka pendherek (pendamping) umumnya dipersiapkan sebagai pelengkap upacara, umumnya diletakkan di samping Pusaka utama/andalan. Biasanya dengan gebyar kinatah emas dan perabotan istimewa sebagai pelengkap busana. Hal ini disengaja agar menghindari rampasan atau sitaan dari Penjajah yang diambil bukan kelas/grade Kanjeng Kyai Ageng yang sengaja berpenampilan sederhana.  

Wedhung dan Khanjar

Wedhung merupakan senjata tajam alat tebas seperti pisau lebar. Kata “Wedhung” menurut kamus Bahasa Jawa “Bausastra” (S. Prawiroatmodjo; 1957, Penerbit Gunung Agung) artinya senjata seperti pisau raut berukuran besar dan bersarung, termasuk sebagai atribut pakaian kebesaran pegawai istana.

Wedhung/Pasikon koleksi Museum Karaton Surakarta

Pada akhir-akhir ini banyak ditemukan artefak senjata serupa Wedhung yang disebut sebagai Khanjar di Sungai Brantas, diperkirakan merupakan peninggalan kerajaan Singhasari (abad 12 Masehi) maupun era yang lebih tua yaitu Kabudhan (abad 10 Masehi).

Salah satu wedhung temuan sungai tangguh estimasi Singhasari

Khanjar bahkan diduga merupakan prototype/bentuk awal keris karena telah memenuhi kriteria unsur Trinitas yaitu Wilah-Gonjo-Pesi sebagai senjata tikam pendek.

Salah satu Khanjar temuan Sungai Brantas (sudah termahar)

Berbeda dengan Wedhung, senjata Khanjar memiliki gonjo seperti halnya keris dan pesinya terletak di tengah wilah.

Khanjar temuan Sungai Brantas

Bukti keberadaan Wedhung sejak lama juga terpampang pada relief candi Penataran (abad 13-14 M) dimana terukir senjata Wedhung. Sedangkan senjata Khanjar tampak pada genggaman arca Siwa Bhairawa yang ditemukan di Malang, yang saat ini menjadi koleksi Rijksmuseum voor Volkenkunde Leiden di Belanda.

Menjelang masa akhir kerajaan Majapahit, dan dimulainya era Kerajaan Demak Bintoro, kekacauan dan ketegangan politik menghantui rakyat sipil, menyebabkan senjata Wedhung yang lebih fungsional mulai banyak diproduksi daripada Keris yang lebih bersifat “senjata psikis”.

Penampakan Wedhung estimasi Tangguh Demak

Pembuatan keris jaman Demak diperkirakan tetap berlangsung namun dalam skala kecil sekali dan tidak diprakarsai oleh Raja. Hal ini jugalah yang menjadi penyebab kenapa Keris tangguh Demak termasuk sulit ditemui hingga saat ini.

Indikasi bahwa Wedhung berkembang di pesisir pantai utara Jawa (pusat Kerajaan Demak Bintoro) adalah aksesori warangkanya yang indah dengan tangkai dari bahan Penyu. Pada jaman berikutnya bahan Penyu diganti dengan bahan tanduk kerbau. Rakyat Kerajaan Demak Bintoro maupun pengikut Sunan Giri, jika terjadi perlawanan fisik melawan prajurit Kerajaan Majapahit, mereka bersenjata pedang dan menyelipkan Wedhung (bukan Keris) pada ikat pinggangnya sebagai identitas prajurit elit daerah pesisiran.

Lambat laun Wedhung mulai digarap Empu dengan teknik pelipatan besi dan lapisan dari bahan meteor yang disebut pamor, seperti halnya pembuatan Keris. Jenis pamor yang sering ditemukan adalah pamor Wos Wutah dan Wiji Timun. Wedhung berpamor Wiji Timun konon hanya boleh dimiliki pejabat kerajaan Demak Bintoro. Wedhung buatan Empu disertai ricikan dan gusen yang indah. Kebutuhan seni, mengubah Wedhung yang sebelumnya berbentuk sederhana dan berfungsi sebagai senjata tebas (karena situasi kacau saat itu) mulai bertransformasi menjadi benda seni yang diagungkan seperti halnya budaya Keris.

Pembuatan Wedhung berkualitas oleh Empu juga mengikuti kaidah condong leleh Keris

Wedhung berkembang menjadi status simbol dalam Keraton, ditandai dengan terciptanya Wedhung kecil dengan ukuran kurang dari 25 cm yang disebut Pasikon. Wedhung kecil Pasikon ini menggeser fungsi senjata tebas menjadi senjata psikis seperti halnya sebilah Keris. Pasikon pada waktu itu hanya boleh oleh Raja maupun petinggi kerajaan. Maka tidak heran setelah era kerajaan Demak Bintoro, raja-raja Jawa melengkapi busananya dengan Pasikon yang mudah dibawa.

Dalam bukunya The History of Java, Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jendral Inggris yang berkuasa pada 1811-1816, menyebut, bahwa seseorang yang akan menghadap Pangeran, apapun pangkat dan gelarnya, harus mengenakan celana dari sutera atau kain halus tanpa kancing dan sebagai pengganti kain atau jarit, dia harus memakai dodot, yaitu kain lebar yang ……..Dia hanya membawa satu keris yang ditempatkan di punggung kanan belakang, dimana pada sisi kirinya membawa WEDHUNG….Dia mengenakan kuluk yang mulai diperkenalkan oleh Sultan Pajang.

Wedhung temuan Sungai Brantas, nampak telah diberi sandangan

Pada jaman Mataram, wedhung dihiasi pamor yang variatif. Perkembangan seni pada wedhung terlihat adanya penambahan kaligrafi Islam di bilahnya dengan teknik menempelkan tatahan rumit terbuat dari emas.
Budaya Wedhung mengalami puncaknya pada jaman keraton Surakarta/Sinuhun Paku Buwana. Wedhung banyak dibuat dan dihadiahkan kepada petinggi-petinggi istana dalam wilayah kekuasaannya.


Bahkan pada jaman Sinuhun Paku Buwana X (abad 18 M), Wedhung sempat dipakai sebagai bahan ujian untuk para empu yang akan diresmikan oleh raja menjadi empu andalan keraton sebagai simbol janji kesetiaannya. Pada masa itu empu mas Ngabei Japan juga membuat wedung yang indah (sumber: The World of The Javanese Keris; Garreftandronwen Solyom).

Wedhung menjadi bagian dari budaya keris yang penting karena oleh raja Paku Buwana X, wedhung  dianggap sebagai karya agung yang spesifik, antara lain di dalam buku Koninklijke Geschenken Uit Indonesie, oleh Rita Wassing-Visser; disebutkan:

“Wedhung, senjata yang disandang di pinggang kiri depan oleh putra raja dan petinggi istana. Bentuk pegangannya bersegi lima, warangka dari kayu berwarna lebih muda dengan 4 lingkaran (ring) terbuat dari emas, dihiasi ornamen sumping (palmet dari emas) dengan initial PB X. Di sisi belakang ada penjepit panjang berbentuk tangkai seperti sendok sepatu dari tanduk kerbau. Wedhung pernah dihadiahkan kepada rafu Wilhelmina oleh Sri Susuhunan Paku Buwana X, saaf penobatannya pada tahun 1898…”.

Wedhung estimasi Tangguh Kartasura

Wedhung biasa (untuk rakyat) juga dipakai oleh para abdi dalem dalam upacara resmi, sebagai ungkapan pengabdian kepada istana. Bahkan disakralkan menjadi simbol pengabdian manusia kepada Tuhan Yang Kuasa.

Makna Ricikan Keris Menurut Serat Centhini

Sebagaimana kita ketahui bahwa serat Centhini menjadi semacam Ensiklopedia Jawa paling lengkap yang pertama kalinya ditulis oleh bangsa kita, karena serat Centhini banyak memuat ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh orang Jawa pada awal abad ke-19. 

Salah satu ilmu pengetahuan orang Jawa yang tercantum di serat Centhini adalah ilmu tentang Tosan Aji termasuk keris, bahkan satu-satunya naskah tertua yang lengkap dan otentik tentang ilmu pengetahuan tentang keris. Pada kesempatan ini saya akan menyampaikan makna ricikan Keris menurut Serat Centhini. Ricikan adalah bagian-bagian atau komponen keris, yang masing-masing mempunyai nama. Ricikan sebilah keris dapat dibandingkan dengan suku cadang atau komponen mobil. Di antara suku cadang mobil terdapat namanya piston, garden, dashboard, roda, jok, dan lain sebagainya. Demikian pula setiap bagian keris berlainan bentuknya dan berlainan pula namanya. Lengkap atau tidaknya ricikan ini, akan menentukan nama dhapur sebilah keris.

Seseorang tidak akan mampu mengetahui nama dhapur dan menangguh Keris, apabila tidak memahami soal ricikan Keris ini.

Langsung saja saya sampaikan makna dan arti ricikan Keris sebagaimana tercantum di Serat Centhini, tentunya disertai foto ricikan Keris yang saya koleksi sampai dengan tulisan ini dibuat sbb:

Ricikan Bawang Sebungkul dan Kruwingan

Bawang Sebungkul:

Mengiaskan kemaluan wanita/rahim, yakni tempatnya Betal Mukadas atau tempat penyucian.

Kruwingan:

Maksudnya agar sosok tubuh/badan kita senantiasa ditata, agar selalu pantas/patut atau serasi dan enak dipandang.

Ricikan Gandhik, Tikel Alis, Wadidang dan Tungkakan,

Gandhik:

Artinya titian jantung yang mampu menimbulkan lahirnya nafsu birahi manusia.

Tikel Alis:

Mengiaskan tiga nafsu hati agar suci dan selamat (rahayu) yakni sabar, rela dan maklum.

Wadidang dan Tungkakan:

Wadidang maksudnya kaki kita yang menguasai tubuh kita. Tungkakan, artinya kemauan manusia. Tidak boleh kalah dengan kemauan untuk menang sendiri/tidak boleh kalah dengan ego kita sendiri.

Ricikan Gonjo atau Ganja Keris

Ganja/Gonjo:

Hanya Allah SWT paling luhur, Kanjeng Rasul adalah Nabi penutup utusan Allah, Nabi pemimpin dunia serta kekasih Yang Maha Agung. Keduanya merupakan tanda keberadaan Gusti dan hambanya. Keduanya merupakan satu wujud, disebut satu namun sebenarnya dua, disebut dua nyatanya satu.

Ricikan Jalen dan Pamor Keris

Jalen:

Jalen artinya hidup kita jangan sampai terpukau, karena kita semua pasti akan kembali ke asalnya yaitu Tuhan.

Pamor:

Artinya di dalam otot kita memancar cahaya Nur Buwat, menandakan bahwa asal hidup kita benar-benar suci dan bening.

Ricikan Kembang Kacang dan Lambe Gajah

Kembang Kacang:

Maknanya Gunung Tursina yang mengetahui keluar masuknya nafas melalui hidung, merupakan  tanda adanya Kawula/Hamba dan Gusti/Allah.

Lambe Gajah:

Sebenarnya adalah mulut kita, merupakan tempatnya Insan Kamil, tempatnya pengucapan Hyang Agung menjadi kenyataan, yaitu sabda Kun Fayakun.

Ricikan Pejetan/Blumbangan dan Sraweyan

Pejetan:

Disebut juga blumbangan oleh para Sutresna Keris. Maknanya ibu jari kita yang mampu/kuat menyangga pekerjaan dalam mencari penghidupan.

Sraweyan:

Artinya musibah atau murka Allah.

Ricikan Pesi

Pesi: Artinya pusar, merupakan keadaan dalam hati kita yang sebenarnya.

Ricikan Sirah Cecak dan Kepet/Buntut Cecak

Sirah Cecak:

Adalah betal makmur atau kepala manusia. Artinya di situlah asal mulanya segala kesenangan dan  ingatan manusia.

Kepet/Buntut Cecak:

Kepet disebut juga Buntut Cecak artinya telapak tangan kita sebagai tali cambuk manusia.

Ricikan Sogokan Keris

Sogokan:

Artinya di dalam poros/sumbu tiang manusia mampu membuka tabir 9 (Sembilan) lubang hawa nafsu yaitu 2 (dua) mata, 2 (dua) lubang hidung, 2 (dua) lubang telinga, 1 (satu) mulut,  zakar dan rahim (kemaluan wanita).

Waja dan Wesi Keris

Waja dan Wesi:

Waja/Baja adalah tulang yang memperkuat tubuh kita. Wesi/Besi artinya daging kita selama hidup di dunia.

Makna dan Rahasia Dhapur Keris Menurut Serat Centhini

Serat Centhini mulai ditulis tanggal 11 Januari 1815 oleh Tim yang dibentuk oleh Raden Mas Sugandi yang menjadi Putera Mahkota Karaton Surakarta Hadiningrat yang bergelar Adipati Anom Mangkunegoro. Beliau akhirnya diangkat menjadi raja Karaton Surakarta Hadiningrat dengan gelar Sri Susuhunan Pakubuwono V, yang hanya memerintah selama 3 (tiga) tahun yaitu mulai tahun 1820-1823. Pakubuwono V mempunyai julukan Sunan Sugih, yang artinya Raja yang kaya harta, juga pernah membuat keris dari pecahan meriam pusaka Kyai Guntur Geni, dimana meriam tersebut pecah saat Perang Geger Pacinan. Keris tersebut diberi nama Kanjeng Kyai Kaget.

Tim penulis dari serat Centhini yang diprakarsai oleh Putera Mahkota terdiri dari Kiai Ngabehi Ronggosutrasno, Kiai Yosodipuro II, dan Kiai Sastrodipuro. Dalam mengumpulkan data, anggotanya menjelajahi tanah Jawa mulai Jawa Barat/Anyer, Jawa Tengah, sampai dengan Banyuwangi/Jawa Timur. Karena serat Centhini banyak memuat ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh orang Jawa pada awal abad ke-19, maka tak heran serat Centhini menjadi semacam Ensiklopedia Jawa paling lengkap yang pertama kalinya ditulis oleh bangsa kita. 

Salah satu ilmu pengetahuan orang Jawa yang tercantum di serat Centhini adalah ilmu tentang Tosan Aji termasuk keris, bahkan satu-satunya naskah tertua yang lengkap dan otentik tentang ilmu pengetahuan tentang keris.

Pada tulisan kali ini saya coba menyampaikan beberapa makna, murad, dan rahasia dhapur keris yang tercantum di Serat Centhini, namun dengan keterbatasan yang saya miliki yaitu sesuai dengan dhapur keris yang saya miliki atau pernah saya miliki saja. Untuk memperjelas bahasa di Serat Centhini yaitu Bahasa Jawa,  yaitu sebagai berikut:

  1. Makna yaitu arti atau maksud.
  2. Murad yaitu keterangan arti.
  3. Rahsa yaitu rahasia.

Oke, langsung saja beberapa dhapur keris beserta makna, murad dan rahsa berdasarkan Serat Centhini adalah sebagai berikut:

Keris dhapur Tilam Upih

Maknanya kiasan, muradnya perempuan. Rahasianya dalam memikirkan keris hendaknya seperti memikirkan atau memperhatikan istri kita.

Keris Tilam Upih Tangguh Majapahit

Keris dhapur Brojol

Maknanya kemauan kita, muradnya yang sudah diucapkan. Rahasianya hendaknya sedikit berbicara. Sebelum berbicara hendaknya dipikir dahulu, apakah sesuai hati nurani kita dan jangan mudah mengeluarkan kata-kata yang tidak perlu.

Keris Brojol Tangguh Pajajaran

Keris dhapur Jalak Tilam Sari

Maknanya tutup, muradnya orang tidur. Rahasianya janganlah berpisah dengan senjata anda dalam kondisi bangun maupun tidur, baik siang maupun malam. Singkatnya kita harus waspada di dalam segala kondisi.

Keris Jalak Tilam Sari Tangguh Cirebon

Keris dhapur Jalak Dindhing

Maknanya hijab atau tirai, muradnya tiga hal. Rahasianya manusia harus sering menyebut Allah, Muhammad dan Rasulullah.

Keris Jalak Dindhing Tangguh Tuban Mataram

Keris dhapur Jalak Sangu Tumpeng

Maknanya tempat keyakinan, muradnya rejeki Allah. Rahasianya jangan khawatir tidak mendapatkan makan, Allah Maha Murah dan Maha Pengasih.

Keris Jalak Sangu Tumpeng Tangguh Majapahit

Keris dhapur Sengkelat

Maknanya hati yang menyala, muradnya perbuatan luhur. Rahasianya siang dan malam, dalam keadaan bangun/tidak tidur, maupun saat tidur, manusia harus bertindak atau bertingkah laku sesuai ukuran.

Keris Sengkelat Tangguh Mataram Senopaten

Keris dhapur Sabuk Inten

Maknanya permata yang indah, muradnya hati anda. Rahasianya kemuliaan seseorang itu harus disertai dengan perilaku yang penuh sopan santun serta cermat.

Keris Sabuk Inten Tangguh Mataram

Keris dhapur Sempono

Maknanya mimpi, muradnya paham ilmu pengetahuan. Rahasianya manusia harus mempunyai perkiraan bagaimana baiknya sebuah urusan, tanpa melupakan rasa waspada baik di waktu siang maupun malam.

Keris Sempono Tangguh Mataram

Keris dhapur Pandhawa Cinarita

Maknanya 5 (lima) wujud, muradnya ajaran orang tua. Rahasianya orang harus memahami bahwa heningnya panca indera itu asalnya dari sabar, menerima apa adanya, dan jauh dari angkara murka.

Keris Pandhawa Cinarita Tangguh Mataram Senopaten

Keris dhapur Condhong Campur

Maknanya tercampur atau bersatu, muradnya hati yang bijaksana. Rahasianya orang harus pabdai bergaul dengan orang lain, jangan mudah sakit hati, sabar dan terus berwajah manis.

Keris Condhong Campur Tanggh Mataram
Koleksi yang lain juga Keris Condhong Campur Tangguh Mataram

Keris dhapur Carubuk

Maknanya tanah, muradnya mau menerima dengan kuat sentosa. Rahasianya hendaknya jangan hanya mau menerima yang baik saja, namun juga harus mau menerima yang buruk dari seseorang.

Keris Carubuk Tanguh Majapahit

Menikmati Tosan Aji Bersama (Makaroni)

Pada jaman dahulu, bangsa agraris seperti Indonesia ini, masyarakatnya memeluk ajaran animisme dan dinamisme. Antropolog luar negeri mencatat hal tersebut sebagai sebuah substansi kepercayaan bangsa kita dahulu.

Konsepsi ajaran spiritual ini mulai menjadi agak sistematis ketika kerajaan Singhasari muncul pada abad 13, dan mulai menterjemahkan banyak serat para pujangga kerajaan Kediri/Kadiri yang terbit pada masa sebelumnya.  Maka terjadi pergeseran budaya spiritual yang sistematis itu, selaras dengan Tantrayana yang oleh pandangan Barat disederhanakan dengan aliran Syiwa-Budha. Seperti juga filosofi Pantheisme yang berkembang pada bobot yang tidak terlepas dari pengakuannya terhadap alam dan kehidupan manusia sebagai suatu kekuatan Tuhan. Hal ini sering disebut ajaran maguru alam (berguru pada alam).

Sebagai contoh, seorang Raja meminta Empu membuat senjata/tosan aji baik berupa Keris maupun Tombak sebagai senjata pamungkas Panglima Perangnya, agar dapat mengalahkan musuh yang dianggap sakti, maka Empu akan mencari inspirasi dari kejadian alam sekelilingnya serta berdoa memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk ditransformasikan ke dalam karyanya.

Ketika ada pelepah kelapa yang telah kering jatuh ke tanah, Empu yang kebetulan sedang dalam perenungan atau semedi bisa jadi langsung meyakini bahwa kejadian tersebut adalah isyarat dari Tuhan Yang Maha Esa. Maka dibuatlah pamor blarak sineret atau belarak wirit, yang berdasarkan Serat Centhini adalah serupa daun kelapa kering berada di pangkalnya (lihat foto)  

Foto Keris berpamor Blarak Sineret koleksi Penulis

Blarak artinya pelepah daun kelapa; sineret artinya berderet, diseret/ditarik karena tidak lancar (seret = tidak lancar). Bayangkan saja seorang Panglima yang sedang menyeret pelepah kelapa untuk dibawa kepada Sang Raja. Blarak atau pelepah kelapa yang diseret itu adalah manifestasi dari mayat musuh yang diseret untuk dipersembahkan kepada Sang Raja.

Konsep dasar maguru alam tersebut di atas sebagai misal “sastra jendra hayuningrat pangruwating diyu” adalah filosofi atau kepercayaan yang memiliki benang merah di seluruh Indonesia/Nusantara. Seperti  di tanah Pasundan dikenal sebutan “papan kalebur kalawan tulis” sebagai ajaran Sunda Wiwitan. Di tanah Toba jaman dulu dikenal kepercayaan Parmalim, juga di tanah Kalimantan dikenal dengan Kaharingan.

Berpindah di jaman modern seperti sekarang, para Petani yang mayoritas hidup di pedesaan tentunya masih banyak memiliki aneka ragam Tosan Aji baik berupa Keris, Tombak maupun Pedang. Terbukti masih banyak yang ditemukan di pedesaan dimana para pedagang tosan aji menyebutnya “lokasian”.

Para Petani itu dengan dasar maguru alam, yaitu bercocok tanam sesuai musim dan jenis tanahnya, bersama angsar/tuah pusakanya dengan seiijin Tuhan Yang Maha Esa, dapat menghasilkan aneka ragam produk pertanian misalnya singkong, beras, jagung dan tanaman holtikultura yang berkualitas dan dalam jumlah melimpah.  

Keris Jalak Sangu Tumpeng di hadapan Ladang Jagung

Hasil panen yang melimpah tersebut kebanyakan masih dalam kondisi mentah, agar meningkatkan nilai tambah tentunya harus diolah misalnya dibuat dalam bentuk tepung agar lebih mudah lagi dibentuk menjadi bahan makanan setengah jadi maupun bahan makananan siap saji/santap.

Makaroni Basah siap saji/santap ala Street Food, dimasak dari Makaroni Delon Biru

Contoh singkong/ubi kayu yang di negara Indonesia menjadi salah satu bahan pokok makanan, mempunyai luas panen 1.003.269 hektar, dengan produksi 22.819.484 ton (Pusat Data Dan Sistem Informasi Pertanian Kementrian Pertanian tahun 2011-2016), dapat diolah menjadi tepung tapioka.

Tepung tapioka bersama tepung terigu, garam, dan bahan lainnya dapat dibentuk lagi menjadi snack seperti makaroni. Contoh merk terkenal makaroni adalah Delon  (bungkus biru) merupakan sebuah produk dari PT Srikandi (Solo, Jawa Tengah) yang telah lama dikenal mempunyai rasa dan kualitas sempurna.

Makaroni Delon Bungkus Biru yang Bantet

Kini dihadirkan bersama paket bumbu yang sangat cocok untuk digoreng (tidak sampai mekar/bantet), maupun dimasak sebagai makaroni basah, seperti layaknya masakan  Abang-Abang penjual Cilor Maklor ala Street Food.

Makaroni Delon Biru yang digoreng kriiuukk….

Cocok untuk dinikmati oleh segala usia sambil nongkrong, belajar, atau nonton film bahkan sambil MENIKMATI KEINDAHAN Keris, Tombak atau Tosan Aji lainnya….

Menikmati kesederhanaan Keris Mahesa Lajer, konon andalan para Petani
Menikmati keindahan Keris Mahesa Teki, konon andalan Tuan Tanah di masa lalu

Adapun Tutorial cara memasak Makaroni Delon Biru yang bantet, baik dimasak makaroni basah maupun makaroni goreng bisa dilihat di link video berikut:

Link Pembelian:

https://www.tokopedia.com/warungantikan/paket-makaroni-delon-biru-bantet-lengkap-dengan-bumbu

https://www.bukalapak.com/p/food/cemilan-snack/camilan-instant/4gwcnij-jual-paket-makaroni-delon-biru-bantet-lengkap-dengan-bumbu?from=product_owner&product_owner=normal_seller

https://shopee.co.id/Paket-Makaroni-Delon-Biru-Bantet-Lengkap-Dengan-Bumbu-i.583707236.12060310580?xptdk=20d8e423-fef7-4c52-a1a5-94fbcbac8582

Filosofi Metuk pada Tombak

Metuk adalah bagian sebilah Tombak yang bentuknya menyerupai cincin tebal dan besar. Letaknya tepat di bagian bawah sor-soran, melingkari bagian pesi yang menempel langsung pada bilah tombak sebelah bawah.

Ricikan Metuk Tombak Dhapur Ron Pring Tangguh Majapahit

Kegunaan praktis Metuk adalah untuk menahan bilah tombak agar bila mendapat benturan keras di ujungnya, bilah tombak tidak amblas masuk ke dalam tangkainya. Bagian Metuk ada yang merupakan logam terpisah dari bilah dan pesinya, namun ada pula yang merupakan satu-kesatuan dengan bilah dan pesi tersebut yang biasa disebut sebagai Metuk iras.

Metuk Iras Tombak Dhapur Sipat Kelor Tangguh Mataram

Walaupun Metuk yang kita kenal sekarang merupakan salah satu ricikan atau bagian dari tombak, pada keris-keris Tangguh Tua/Sangat Super Sepuh, Metuk juga merupakan salah satu ricikan. Kebetulan saya juga memiliki 2 bilah Keris temuan Sungai Brantas yang bertangguh Singhasari masih memiliki ricikan Metuk yaitu berdhapur Jangkung luk 3 (tiga) dan berdhapur Carang Soka luk 7.

Sisa Metuk pada Keris Temuan Sungai berdhapur Jangkung Luk 3
Sisa metuk pada Keris Temuan Sungai berdhapur Carangsoka Luk 7

Adapun filosofi ricikan Metuk yang saya peroleh dari rekan komunitas pecinta tosan aji, dapat saya sampaikan dengan beberapa sudut pandang yang tentunya semakin memperkaya khazanah budaya tosan aji di Nusantara yaitu sebagai berikut:

Dari sudut pandang Metuk sebagai bagian/ricikan pada tombak untuk senjata perang:

Bahwasanya Metuk berasal dari kata dasar Petuk (Bahasa Jawa yang artinya berjumpa atau bertemu).  Sedangkan Metuk lebih bersifat sebagai kata aktif yang artinya menjumpai atau menemui atau lebih tepatnya menjemput.  Ya…dengan tombak para Prajurit Jawa menjemput keharuman nama atau kematian mulia karena ajal paling indah dijemput dengan amal suci Perang Sabil. Metuk adalah perlambang dzikrul maut, sebab maut jikapun tak dijemput, ia yang akan menjemput. Di dalam Kitab Suci Al-Quran juga telah disebutkan: “Di mana saja kalian berada, kematian akan mendapati kalian, kendatipun kalian berada di benteng yang tinggi lagi kokoh” (Al Quran Surat An-Nisa ayat 78).

Dari sudut pandang Metuk sebagai bagian/ricikan pada tombak untuk pusaka mencari rejeki:

Bahwasanya Tombak juga dipakai sebagai piyandel/pusaka yang diharapkan menambah rejeki baik berupa harta maupun non harta (misal rejeki berupa kesehatan, ketentraman rumah tangga, keselamatan, kelancaran urusan duniawi dll). Dalam hal ini sebuah pertemuan harus menghasilkan sesuatu yang lebih baik, bisa jadi dengan menyambung tali silaturrahim, berkahnya adalah Panjang umur dan rizqi yang lapang. Sebagaimana Hadist (HR Bukhari dan Muslim): “Barangsiapa suka diluaskan rizqinya dan dipanjangkan usianya, maka hendaklah dia sambung  silaturrahim”

Tombak Pusaka Langka Sipat Kelor Tangguh Mataram

Sebagai bagian dari Tosan Aji, tombak memanglah tidak sepopuler keris. Namun harus diakui, tombak memiliki daya tarik dan kharismanya sendiri. Dengan wujud seperti banyak kita kenal, tombak memberikan kesan gagah, garang dan tangkas bagi seorang Kesatria, tatkala ia harus menghadapi musuh dari atas kuda perang misalnya. Sebagai bagian dari pusaka ampuh yang digunakan untuk menghadapi lawan di medan perang, tombak memang membutuhkan keahlian khusus untuk menggunakannya.

Tombak pusaka langka dhapur Sipat Kelor

Contoh Kesatria dengan kesaktian pusaka tombaknya kemudian berhasil melumpuhkan musuhnya antara lain Sutawijaya yang berhasil membunuh Arya Penangsang, Adipati Jipang dengan Tombak Kiai Plered. Tombak legendaris ini kemudian menjadi simbol berdirinya Kerajaan Pajang yang dipimpin Sultan Hadiwijaya.

Tombak dhapur langka Sipat Kelor dengan background tanaman Cincau Hitam (Mesona palustris BL)

Ada lagi tombak sakti Kiai Baru Klinthing, milik Ki Ageng Wanabaya, penguasa Mangir. Tombak yang dimitoskan berasal dari lidah Naga ini sangat ditakuti, bahkan juga membuat gentar seorang Raja sekelas Panembahan  Senopati. Walaupun akhirnya Panembahan Senopati berhasil membunuh Ki Ageng Mangir dengan tipu muslihat, namun sama sekali bukan karena menaklukan tombak pusaka bernama Kiai Baru Klinthing itu.

Keterangan dari tombak dhapur Sipat Kelor

Penulis sendiri mendapat keberuntungan dengan mendapatkan Tombak Pusaka yang tergolong langka karena berdhapur Sipat Kelor. Kebanyakan dhapur tombak Sipat Kelor dibuat khusus sebagai Tombak Pusaka, bukan untuk keperluan perang.

Koleksi tombak Sipat Kelor, dibuat untuk pusaka bukan untuk perang

Beberapa ciri khas tombak dhapur Sipat Kelor adalah mempunyai luk 3 (tiga). Luknya mulai pertengahan bilah, sedangkan bagian pangkalnya lurus. Tombak ini juga tidak memakai bungkul. Walaupun bentuknya sederhana, tombak dhapur Sipat Kelor termasuk langka, jarang dijumpai.

Dipadankan dengan kayu Walikukun sebagai landeyan/gagang tombak

Penulis mendapatkan tombak tersebut dalam kondisi kotor dan tidak terawat. Namun setelah diwarangi tampak berpamor Pedaringan Kebak, artinya tempat beras terisi penuh. Dengan angsar/doa/filosofi kerejekian dan kemakmuran bagi pemiliknya. Dipadankan dengan landeyan/gagang tombak dari kayu Walikukun.

Kondisi saat masih kotor/belum diwarangi (sebelah kanan)

Kayu walikukun banyak ditemukan di hutan berhawa panas dengan sifat ulet dan keras, sehingga cocok digunakan sebagai landeyan/gagang tombak. Pohon Walikukun juga sudah sejak lama digunakan sebagai penawar pekarangan angker dengan cara ditanam di semua sudut pekarangan tersebut.      

Perjanjian Giyanti: Memecah Dinasti Mataram Islam

Tepat hari ini, 266 tahun silam, wilayah kekuasaan Dinasti Mataram Islam yang semula dimiliki Kasunanan Surakarta harus diberikan separuhnya kepada Pangeran Mangkubumi dan lahirlah Kasultanan Yogyakarta. Peristiwa ini biasa disebut Perjanjian Giyanti atau Palihan Nagari yang terjadi di wilayah Kabupaten Karanganyar masa kini.

Situs atau Monumen Perjanjian Giyanti di Kabupaten Karanganyar

Di tempat ini tersimpan memori kelicikan Penjajah Belanda dalam menjalankan politik devide et impera dalam bentuk situs atau monument yang hingga sekarang masih terawat baik.  Di samping situs terhampar sawah yang menambah suasana asri, nyaman dan syahdu. Sampai sekarang situs ini masih sering dikunjungi orang yang nenepi atau ngalap berkah ditandai dengan banyak bunga tabur di atas batu-batu.

Foto di dalam lokasi situs Perjanjian Giyanti
Masih tersisa bunga tabur yang cukup fresh di lokasi Situs Perjanjian Giyanti

Dengan terbelahnya wilayah kekuasaan tersebut kemudian terjadilah penguatan identitas di masing-masing kerajaan. Penguatan identitas ini terjadi pada produk-produk kebudayaan misalnya tata cara busana, upacara perkawinan, seni tari, gamelan, gagrak wayang, corak batik, blangkon, tangguh keris dan termasuk perabotan keris.

Perbedaan Sandangan Keris: Ladrang Surakarta dan Branggah Yogyakarta
Perbedaan Sandangan Keris: Gayaman Surakarta dan Gayaman Yogyakarta

Bisa jadi timbul hikmah dengan adanya peristiwa Perjanjian Giyanti tersebut, yaitu makin bertambahnya ragam kekayaan budaya Nusantara milik kita….

Menyambut Tahun Kerbau Logam

Masyarakat Jawa menyebut Kerbau dengan nama Kebo atau Mahesa/Maesa, sedangkan masyarakat Sunda menyebutnya dengan nama Munding. Hewan kerbau sudah sejak lama dianggap sebagai “Raja Kaya”, yang mendatangkan banyak manfaat bagi pemiliknya. Kekayaan (raja brana, raja kaya, dan karang kitri) bagi orang Jawa diperoleh dengan laku prihatin.

Kerbau juga menjadi simbol etos kerja, kekuatan, kepatuhan dan semangat kerja sehingga tidak heran Kerbau juga muncul dalam relief di Candi Borobudur dan Sojiwan. Jaman kerajaan Majapahit juga terdapat tokoh-tokoh yang menyandang nama Kerbau, antara lain Kebo Kanigoro, Kebo Kenongo, dan Kebo Marcuet.

Keris Kebo Teki Tangguh Mataram

Pun di budaya Keris, sebagai penghargaan terhadap sosok hewan Kerbau, beberapa dhapur Keris juga menyandang nama Kerbau antara lain: Kebo Teki, Kebo Lajer, Kebo Dhengen, Kebo Dhungkul, Kebo Dhendheng, Mahesa Nempuh, Mahesa Nyabrang dan Mahesa Salurung.

Keris Kebo Lajer Tangguh Tuban Majapahit

Akhirnya Gong Xi Fa Chai bagi sahabat yang merayakannya…

Semangat Keris Singa Barong di Tahun Baru 2021

Meski pada dasarnya hewan Singa tidak pernah ada di Pulau Jawa karena memang bukan hewan endemik negara ini, namun kehadirannya tetap terasa dari jaman nenek moyang kita seiring datangnya agama Hindu-Budha.

Keris ganan Singo Barong luk 5 dengan batu mulia

Dalam agama Hindu, Durga istri Syiwa sebagai Kali atau Bhairawi sering dilukiskan mengendarai Singa. Pun dalam agama Budha misalnya di Candi Borobudur, patung Singa selain berfungsi sebagai Dwarapala yakni penjaga pintu masuk Candi juga terpahat di relief Candi Borobudur.

Patung Singa di Candi Borobudur (Dokumen Kemendikbud RI)

Penggunaan motif Singa pun berlanjut sampai dengan generasi Mataram Islam dan pewarisnya misal Keraton Surakarta Hadiningrat. Tidak hanya dalam bentuk patung namun juga perangkat upacara adat dan pusaka seperti Keris.

Patung Singa di Keraton Surakarta tampak dari samping
Patung Singa di Keraton Surakarta tampak dari depan
Keris Singo Barong tangguh Mataram, luk 5, pasikutan prigel/lincah

Sosok Singa melambangkan kekuatan, keberanian dan perlindungan. Semoga bangsa kita mendapatkan kekuatan dan keberanian dalam menghadapi Pandemi Covid 19, serta terlindungi dari segala macam wabah penyakit, serta gangguan stabilitas Politik dan Ekonomi.

Selamat Tahun Baru 2021, semoga kita semua selalu dilindungi Tuhan Yang Maha Esa…

Keris Singa Barong dipasangkan dengan deder Jogjakarta dan Mendhak/uwer Jogjakarta motif Bejen. Tampak serasi dan elok dengan bunga putih