Keris Panimbal Mataram (Termahar)

Tangguh Mataram. Luk 9

Pembagian luk serasi

Pasikutan gagah merbawani

Keris Panimbal Mataram

Warangka branggah Jogja lamen dan telah dipelitur ulang.

Warangka Keris Branggah Jogja yang “Ngayang Batin”

Panjang wilah/pesi: 35 cm/5,5 cm

Warangka Branggah Jogja lamen dengan pelituran baru

Pesi masih utuh dan kokoh

Pamor wos wutah. Angsar Pamor ini berkhasiat baik untuk ketentraman dan keselamatan pemiliknya, bisa digunakan untuk mencari rejeki, cukup wibawa dan disayang orang sekelilingnya, pamor ini tidak pemilih.

Keluarnya pamor sanak/nyanak

Pamor wos wutah dengan keluarnya pamor sanak/nyanak

Jaman dulu Keris Panimbal populer di kalangan abdi dalem karena dipercaya memiliki tuah yang menyebabkan pemilik dipercaya oleh atasannya (termasuk raja) untuk melaksanakan berbagai tugas.

Keris ini sangat cocok untuk para abdi negara (PNS/ASN), pegawai BUMN, atau orang yang bekerja di perusahaan swasta karena dapat menimbulkan kepercayaan dari atasannya.

Juga dipercaya menimbali/memanggil pusaka lain untuk kumpul di gedong pusaka pemiliknya

Termahar via Bukalapak

Legenda Keris Condong Campur dan Lintang Kemukus

Sabtu (10/10/2020) malam, beberapa warga di Tuban Jawa Timur melihat cahaya merah terang membentuk garis vertikal tegak lurus. Banyak orang meyakini ini adalah lintang kemukus dan mengaitkannya dengan berbagai kepercayaan, khususnya pertanda buruk seperti akan ada pagebluk, bencana alam, dan lain sebagainya.

Sementara di dunia Perkerisan, lintang kemukus sendiri berkaitan erat dengan legenda Keris berdhapur Condong Campur.
Konon keris Condong Campur dibuat/dibabar beramai-ramai oleh 100 orang Empu di jaman menjelang runtuhnya Majapahit. Bahan kerisnya diambil dari berbagai tempat. Dan akhirnya keris ini menjadi keris pusaka yang sangat ampuh tetapi memiliki watak yang jahat.

Keris Dhapur Condong Campur Tangguh Mataram (koleksi pribadi)

Ketika Kerajaan Majapahit sudah mencapai masa keemasan, terjadi banyak sekali perbedaan. Heterogenitas ini menyebabkan terjadinya perpecahan di masyarakat,baik dari aspek agama, budaya, kasta, dsb. Paling tidak ada 2 golongan yang memiliki perbedaan pandangan sangat tajam pada masa itu, yaitu:

  • Golongan pertama, yaitu golongan pemilik modal, pedagang dan pejabat.
  • Golongan kedua, yaitu golongan masyarakat bawah yang kecewa dengan kondisi yang mereka alami, seperti keterpurukan nasib, tekanan hidup dan penindasan.

Dalam dunia keris, golongan pertama di atas dapat diibaratkan dengan keris dengan Keris Sabuk Inten. Sabuk berarti ikat pinggang. Sedangkan Inten berarti intan atau permata. Dengan demikian, Sabuk Inten menggambarkan golongan pemilik modal yang bergelimang harta benda.

Keris Dhapur Sabuk Inten Tangguh Mataram (koleksi pribadi)

Golongan kedua yang disebutkan di atas adalah masyarakat kelas bawah yang kecewa, marah, terhadap keadaan. Dalam bahasa Jawa, perasaan mereka disebut sengkel atine atau jengkel hatinya. Dalam dunia keris, kondisi ini identik dengan keris dengan dapur Sengkelat, yang namanya diambil dari kata sengkel atine.

Keris Dhapur Sengkelat Tangguh Mataram (koleksi pribadi)

Dengan adanya perbedaan tersebut, diupayakan adanya persatuan (condong campur) antar golongan. Condong Campur merupakan suatu perlambang keinginan untuk menyatukan perbedaan. Condong berarti miring yang mengarah ke suatu titik, yang berarti keberpihakan atau keinginan. Sedangkan campur berarti menjadi satu atau perpaduan. Dengan demikian, Condong Campur adalah keinginan untuk menyatukan suatu keadaan tertentu.

Keris Dhapur Condong Campur Tangguh Mataram (koleksi pribadi)

Tetapi yang kemudian terjadi hanyalah persatuan semu di permukaan saja. Padahal sesungguhnya tidak terjadi persatuan dalam kehidupan masyarakat Majapahit. Tidak berhasilnya upaya pembauran ini sesungguhnya disebabkan ketidakinginan para pemilik modal untuk melakukan pembauran tersebut dan khawatir akan terganggunya kepentingan mereka.

Dalam dunia Keris muncul legenda yang menceritakan adanya pertengkaran antara beberapa keris. Keris Sabuk Inten yang merasa terancam dengan adanya keris Condong Campur akhirnya memerangi Condong Campur. Dalam pertempuran tersebut, Sabuk Inten kalah. Sedangkan keris Sengkelat yang juga merasa sangat tertekan oleh kondisi ini akhirnya memerangi Condong Campur hingga akhirnya Condong Campur kalah dan melesat ke angkasa menjadi Lintang Kemukus (komet atau bintang berekor), dan mengancam akan kembali ke bumi setiap 500 tahun sekali untuk membuat huru hara, pagebluk, bencana alam, dll

Keris Pusaka Tindih Khanjar

Tangguh Kabudhan/Purwacarita

Pusaka Tindih yang merupakan prototype/bentuk awal keris karena telah memenuhi kriteria unsur Trinitas yaitu Wilah-Gonjo-Pesi sebagai senjata tikam pendek.

Kondisi kotor masih banyak kerikil dan batu menempel di wilah

Memiliki gonjo seperti halnya keris dan terletak di tengah wilah.

Otentik, temuan sungai Brantas. Berselimut patina ngilap alami.

Kondisi masih bisa dinikmati rancang bangunnya

Pusaka ini sering ditemui di Arca Siwa Bhairawa. Panjang total  25,3  cm

Khusus yang paham dan berminat terhadap artefak temuan pusaka warisan Nenek Moyang kita.

Pusaka tindih dipercaya menetralkan aura negatif/buruk dari pusaka lainnya.

Pusaka ini telah disandangi dengan Sandang Walikat sesuai bentuk relief di candi-candi dan memakai deder motif primitif.

Khanjar dengan sandangan yang menarik

Menurut saya ini adalah tindihnya pusaka tindih.

Link Pembelian:

https://www.bukalapak.com/p/hobi-koleksi/koleksi/keris/3lo91rb-jual-keris-pusaka-tindih-khanjar?from=product_owner&product_owner=normal_seller

https://www.tokopedia.com/warungantikan/keris-pusaka-tindih-khanjar