Singep Keris Kain Cinde Motif Rante

Sarung pembungkus warangka keris atau singep terbuat dari Kain Cinde motif Rante. Filosofi motif Rante (Bahasa Indonesia = Rantai) adalah untuk mengikat, baik mengikat hubungan/relasi dengan pasangan, pelanggan atau hubungan bisnis.

Dengan Warangka Adat Yogyakarta

Cocok untuk segala jenis Warangka Keris dari adat Surakarta, Yogyakarta, Wulan Tumanggal, Sandang Walikat maupun jenis Warangka Keris luar Jawa (Melayu, Palembang, Sumatera, Lombok, Bugis dll).

Dengan Warangka Adat Surakarta

Tali juga terbuat dari kain Cinde (bukan tali kolor) sehingga tampak elegan dan mriyayeni.

Kondisi saat ditutup

Silahkan lengkapi perabot pusaka anda dengan sarung warangka keris ini agar warangka  terhindar dari kemungkinan tergores, terbentur, kena debu dan sebab lain yang dapat merusak.

Murah namun tidak murahan. Juga tersedia warna lain, silahkan cek di item barang/persediaan warna lain. Selama iklan ini tayang berarti persediaan masih ada.

Saat diletakkan dalam lemari pusaka

Link Pembelian:

https://www.bukalapak.com/p/hobi-koleksi/koleksi/keris/4habec4-jual-singep-keris-kain-cinde-motif-rante?from=list-product&pos=2

https://www.tokopedia.com/warungantikan/singep-keris-kain-cinde-motif-rante?extParam=ivf%3Dfalse%26src%3Dsearch

Tombak Langka Biring Sumben

Tangguh: Mataram Senopaten

Tombak Langka Biring Sumben

Pasikutan: wingit namun tetap terlihat berwibawa/merbhawani

Tutup Tombak: Gaya Yogyakarta (telah diperbaiki dan plitur ulang dari kondisi saat ditemukan di lokasi/desa, bisa dicek di foto). Dimaharkan tanpa landheyan.

Tutup tombak gaya Yogyakarta telah diperbaiki dan diplitur ulang

Warangan baru.

Foto sebelum dan sesudah diwarangi

Pamor: Kelengan atau Pengawak Waja, dengan angsar/tuah yaitu membuat pemiliknya berpikir dan bersikap lebih bijaksana.

Nilai plus pamor kelengan sebagai pusaka TINDIH

Tombak/keris berpamor kelengan/pengawak waja lebih mengutamakan kematangan tempa dan kesepurnaan aspek garap. Bahkan juga memiliki kekuatan isoteri lebih multifungsi dibanding tosan aji berpamor. Yaitu sebagai alternatif pusaka TINDIH, dimana secara mata batin, watak, karakter, perbawa dari pusaka TINDIH dapat menjadi pamomong bagi tosan aji lainnya.

Foto kondisi dari lokasian/desa, sangat tidak terawat

Panjang wilah/pesi: 23,5 cm / 12,5 cm.

Di antara keluarga tombak Biring, tombak berdhapur Biring Sumben tidak banyak dijumpai/langka. Kebanyakan tombak biring yang beredar di kalangan pecinta tosan aji adalah Biring Jaler/Lanang maupun Biring Estri/Wadon.

Tombak Biring Sumben mempunyai ricikan wilahnya lurus, sogokan rangkap di bagian sor-soran dan memakai odo-odo yang jelas dan membujur di tengah wilah sehingga menambah kesan berotot. Pada jaman dahulu tombak Biring Sumben banyak dipakai oleh pasukan berkuda/kavaleri, panglima perang, maupun dipegang orang yang profesinya perlu ketegasan (penegak hukum, penjaga keamanan). 

Beberapa titik nampak aus karena usia dan berlubang kecil/combong

Di beberapa titik wilah mengalami korosi alami dan berlubang kecil/combong di bagian sekitar panetes dan methuk (lihat foto yang tersedia).

Tombak ini ini sangat pantas melengkapi koleksi anda karena selain langka/tidak banyak dijumpai, juga bersifat multifungsi yaitu dapat menjadi alternatif pusaka keris TINDIH mengingat harga/mahar pusaka TINDIH bertangguh kuno/super tua (Kabudhan, Singhasari, Jenggala, Kahuripan, Dahanapura) sangatlah mahal.

Link Pembelian:

https://www.bukalapak.com/p/hobi-koleksi/koleksi/keris/4h9erky-jual-tombak-langka-biring-sumben?from=list-product&pos=3

https://www.tokopedia.com/warungantikan/tombak-langka-biring-sumben?extParam=ivf%3Dfalse%26src%3Dsearch&refined=true

https://shopee.co.id/Tombak-Langka-Biring-Sumben-i.583707236.12093506397?sp_atk=ca32b3dd-0264-4c29-9ca1-d56711b33642&xptdk=ca32b3dd-0264-4c29-9ca1-d56711b33642

Tombak Kudhup Gambir Pamor Teja Kinurung Ukuran Jumbo (Termahar)

Tangguh Mataram.

Pasikutan Gagah Merbhawani

Pamor: Teja Kinurung (artinya Cahaya yang Terkurung). Dengan filosofi bahwa hati kita mengandung nur/teja/cahaya yaitu tidak pernah padam menyinari kegelapan, sehingga kita bisa menjadi penerang/pemberi manfaat bagi masyarakat sekitar. Angsar baik untuk pegawai negeri/ASN atau mereka yang bekerja untuk negara. Itulah sebabnya banyak pejabat negara yang memiliki tosan aji berpamor Teja Kinurung.

Tutup Tombak model Yogyakarta

Pamor Teja Kinurung termasuk pamor rekan yang mempunyai tingkat kesulitan pembuatan tingkat advance, sehingga wajar mempunyai nilai mahar yang lebih tinggi.

Pamor Tejo Kinurung termasuk banyak dicari penggemar Tosan Aji

Tergolong pamor tidak pemilih, siapa saja cocok memilikinya. Keluarnya pamor pandes.

Keterangan ricikan Tombak Kudhup Gambir

Panjang wilah/pesi: ± 29 cm/ ± 12 cm. Tergolong tombak Kudhup Gambir ukuran jumbo karena biasanya ditemui dengan ukuran 12-15 cm, kadang-kadang sampai 17 cm (sumber Buku Ensiklopedi Keris oleh Bambang Harsrinuksmo).   

Termasuk tombak jumbo

Pasikutan gagah merbhawani. Warangka lamen/lawas gaya Yogyakarta dengan plitur baru.

Landheyan terbuat dari kayu jati.

Termahar langsung via Japri  kepada Bapak AB/Karanganyar

Keris Suratman Kethip

Tangguh: Tuban era Mataram. Pasikutan: Wingit

Dhapur: Tilam Sari

Keris Suratman Kethip berdhapur Tilam Sari

Warangka: Gayaman Surakarta dengan deder model Naradakandha

Sandangan Gayaman Surakarta lawas untuk Keris Suratman Kethip

Pamor khas berupa gambaran timbul/relief bulatan-bulatan uang kuno di sepanjang wilah, ada yang terpisah (dinamakan: Suratman Kethip), dan ada yang bertumpuk berjajar (dinamakan: Suratman Letrek).

Pamor bulatan uang kepeng selalu berjumlah ganjil

Jumlah bulatan di wilah Keris Suratman selalu berjumlah ganjil sebagaimana pada Keris ini adalah berjumlah 23 (dua puluh tiga). Filosofi pamor berbentuk bulat/lingkaran di Tosan Aji secara umum adalah melambangkan sesuatu yang sifatnya keduniaan, lambang harapan atas rejeki dari Tuhan YME, ketentraman keluarga dll. 

Filosofi pamor berbentuk bulat/lingkaran

Panjang wilah/pesi: ± 34,5 cm / ± 6,5 cm.

Panjang wilah/pesi Keris Suratman Kethip

Keris Suratman baik berupa Suratman Kethip maupun Suratman Letrek merupakan Keris endemik khususnya di daerah Pekalongan sekitarnya, maupun daerah Pantura pada umumnya. Bahkan sampai sekarang menjadi Keris sinengker dan banyak disimpan juragan-juragan batik Pekalongan, karena diyakini angsar pamornya tidak kalah dahsyat dengan pamor Udan Mas.

Pasikutan Keris wingit dengan warna besi kehitaman karena memang untuk perawatan Keris Suratman secara turun temurun hanya diolesi minyak misik hitam dan diangin-anginkan sekaligus diasapi dengan dupa atau kemenyan, tanpa pernah diwarangi. Dengan demikian residu endapan minyak misik hitam dan asap dupa/kemenyan menjadikan besi keris menghitam.

Keris ini cocok bagi Anda yang telah mengidam-idamkan Keris berpamor Udan Mas sepuh, namun belum juga mendapatkannya karena secara filosofi/angsar sama dengan pamor Udan Mas namun masih dalam rentang harga yang masuk akal/reasonable.

#AlternatifKerisUdanMas

Link Pembelian/Memahari:

https://www.bukalapak.com/p/hobi-koleksi/koleksi/keris/4h88r91-jual-keris-suratman-kethip?from=list-product&pos=1

https://www.tokopedia.com/warungantikan/keris-suratman-kethip?extParam=ivf%3Dfalse%26src%3Dsearch

Keris Jalak Sangu Tumpeng Mataram

Pasikutan Prigel/Tangkas

Tangguh: Estimasi Mataram

Keris Jalak Sangu Tumpeng Tangguh Mataram

Pamor: Ngulit Semangka (angsar untuk memudahkan mencari rejeki dan mudah bergaul dengan siapa saja, pamor ini tidak pemilih dan cocok bagi siapa saja).

Dengan Pamor Ngulit Semangka

Keluarnya pamor luluh keabu-abuan.

Keris ini memiliki gaya seperti umumnya keris Mataram Senopaten yang bentuk bilahnya ramping seperti keris Majapahit, tetapi besi dan penerapan pamor serta bentuk ganjanya menunjukkan ciri Mataram Senopaten

Warangka: Ladrang Surakarta dengan kondisi yang baik

Warangka Ladrang Surakarta dengan Kondisi Bagus

Ricikan tingil/thingil masih ada. Silahkan dibandingkan dengan Keris Jalak Sangu Tumpeng yang lain, dimana ricikan tingil/thingilnya kebanyakan sudah aus/hilang.

Ricikan Tingil/Thingil masih ada/terlihat

Panjang wilah/pesi: ± 30,5 cm/ ± 7 cm

Warangan baru

Filosofi Keris Jalak Sangu Tumpeng

Keris dhapur Jalak Sangu Tumpeng boleh dikata adalah salah satu keris berdhapur Jalak yang paling populer bagi masyarakat Jawa hingga banyak dijadikan pusaka warisan keluarga turun temurun.

Juga diketahui seringkali diberikan orang tua kepada anaknya ketika hendak merantau mencari rejeki atau dimiliki sebagai pusaka dan pengingat dalam mencari rejeki yang berlimpah.

Link Pembelian:

https://www.bukalapak.com/p/hobi-koleksi/koleksi/keris/4h7u1ug-jual-keris-jalak-sangu-tumpeng-mataram?from=list-product&pos=3

https://www.tokopedia.com/warungantikan/keris-jalak-sangu-tumpeng-mataram?extParam=ivf%3Dfalse%26src%3Dsearch

https://shopee.co.id/Keris-Jalak-Sangu-Tumpeng-Mataram-i.583707236.16861430472?sp_atk=ef9d2910-3dc3-4241-8ce0-00a3c6e0b1b7&xptdk=ef9d2910-3dc3-4241-8ce0-00a3c6e0b1b7

Keris Pusaka Berdhapur Sederhana: Tilam Upih

Pusaka dalam kamus Bahasa Indonesia berarti sesuatu yang berharga dan memberi manfaat, dimana manfaat itu hanya diperoleh bagi yang mengetahui makna atau pesan yang tersirat dalam wujud keris tersebut.  Termasuk Keris bagi masyarakat Jawa, sudah menjadi benda yang disebut sebagai pusaka turun temurun. Di daerah lain, Tilam Upih biasa juga disebut Tilam Pethak atau Tilam Putih.

Keris Dhapur Tilam Upih Tangguh Majapahit koleksi saya

Menariknya, keris yang sering dijadikan pusaka keluarga turun temurun di masyarakat Jawa hanya berdhapur sederhana yaitu Tilam Upih. Bagaimana tidak sederhana? Karena Tilam Upih adalah keris lurus dengan hanya mempunyai ricikan Gandik lugas/polos, Tikel alis, dan pejetan. Tanpa ada ricikan lain. Dengan rancang bangun yang sederhana ini, justru seringkali Tilam Upih menjadi media ekspresi Empu untuk membuat pamor rekan karena pamor dapat ditonjolkan dengan leluasa tanpa terganggu bentuk dhapur. Pamor rekan disini sebagai contoh Tri Warno, Ron Genduru, Blarak Sineret, atau Wengkon.

Terdapat pamor tiban yaitu Pamor Nur di bagian sor-soran

Walaupun cukup sederhana, sebagai pusaka dhapur ini memuat makna filosofis. Tilam Upih dapat diartikan tidur pada alas (semacam tikar yang terbuat dari anyaman daun kelapa). Dasar filosofi keris Tilam Upih adalah tidur pada sebuah landasan, memberi makna kepasrahan diri, penyerahan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kepasrahan total yang sempurna dimana seseorang seolah kembali kepada Tuhan. Tidur dalam konteks “Ilmu Jawa” juga merupakan lambang ketentraman dalam kehidupan secara lahir dan batin. Tidur bisa dikatakan sebagai suatu kematian sementara. Dalam tidur tidak ada angan-angan, tidak ada kesadaran dan merupakan kondisi kepasrahan total.

Pasikutan Wingit khas Tangguh Majapahit

Upih merupakan simbol pohon kelapa yang sangat tahan terhadap hama penyakit. Semua bagian pohon kelapa bermanfaat dan dapat digunakan untuk kebutuhan manusia, tidak ada yang terbuang sia-sia. Bahkan orang Indonesia tidak bisa lepas dari kelapa untuk menu masakan sehari-hari. Hal tersebut juga menggambarkan bahwa manusia harus senantiasa dapat bermanfaat bagi keluarga, lingkungan sekitar dan bangsanya. Sebilah keris berdhapur Tilam Upih yang sangat sederhana, ternyata sarat dengan pesan terhadap kehidupan manusia secara mendalam

Kesederhanaan yang tercermin dalam Keris dhapur Tilam Upih ternyata juga tercermin dalam Pusaka Karaton, dimana berdasarkan informasi yang saya terima, seringkali Pusaka Karaton juga berpenampilan sederhana. Misalnya yang bergelar Kanjeng Kyai Ageng jarang berkinatah kamarogan karena pertimbangan keampuhannya. Jika ditemui dengan gebyar kinatah emas biasanya keris tersebut bergelar Kyai sebagai pendherek (pendamping), atau keris milik Saudagar maupun Bangsawan.

Keris di Karaton yang bergelar Kanjeng Kyai apalagi yang bergelar Kanjeng Kyai Ageng dipastikan ampuh. Selain dibuat oleh Empu yang terkenal, kerisnya juga wingit/angker karena selalu “disingit”. Disingit adalah Bahasa Jawa  yang artinya kurang lebih “saya dadi wingit”atau benda yang di aji-mantera agar semakin menjadi wingit/angker. Dalam tradisinya, ritual jamasan Pusaka di Karaton Surakarta dilaksanakan pula Sidhikara (dimanterai) pada hari-hari tertentu oleh Sinuhun dalam rangka perawatan Pusaka-Pusaka Karaton Surakarta.

Contoh Pusaka Keris Tilam Upih bergelar Kanjeng Kyai/Kanjeng Kyahi

Pusaka pendherek (pendamping) umumnya dipersiapkan sebagai pelengkap upacara, umumnya diletakkan di samping Pusaka utama/andalan. Biasanya dengan gebyar kinatah emas dan perabotan istimewa sebagai pelengkap busana. Hal ini disengaja agar menghindari rampasan atau sitaan dari Penjajah yang diambil bukan kelas/grade Kanjeng Kyai Ageng yang sengaja berpenampilan sederhana.  

Singep Keris Kain Cinde Motif Cakar (Termahar)

Sarung pembungkus warangka keris atau singep terbuat dari Kain Cinde motif Cakar.

Dengan warangka keris adat Surakarta

Filosofi motif Cakar adalah kemandirian dalam mencari rejeki. Cocok untuk segala jenis Warangka Keris dari adat Surakarta, Yogyakarta, Wulan Tumanggal, Sandang Walikat maupun jenis Warangka Keris luar Jawa (Melayu, Palembang, Sumatera, Lombok, Bugis dll).

Dengan warangka keris adat Yogyakarta

Tali juga terbuat dari kain Cinde (bukan tali kolor) sehingga tampak elegan dan mriyayeni.

Kondisi saat ditutup, nampak tali juga terbuat dari kain Cinde

Silahkan lengkapi perabot pusaka anda dengan sarung warangka keris ini agar warangka  terhindar dari kemungkinan tergores, terbentur, kena debu dan sebab lain yang bisa merusak.

Dengan warangka Sandang Walikat dan Wulan Tumanggal

Murah namun tidak murahan. Juga tersedia warna lain, silahkan cek di item barang/persediaan warna lain. Selama iklan ini tayang berarti persediaan masih ada.

Saat disimpan di dalam Lemari Pusaka, nampak elegan

Termahar

Wedhung dan Khanjar

Wedhung merupakan senjata tajam alat tebas seperti pisau lebar. Kata “Wedhung” menurut kamus Bahasa Jawa “Bausastra” (S. Prawiroatmodjo; 1957, Penerbit Gunung Agung) artinya senjata seperti pisau raut berukuran besar dan bersarung, termasuk sebagai atribut pakaian kebesaran pegawai istana.

Wedhung/Pasikon koleksi Museum Karaton Surakarta

Pada akhir-akhir ini banyak ditemukan artefak senjata serupa Wedhung yang disebut sebagai Khanjar di Sungai Brantas, diperkirakan merupakan peninggalan kerajaan Singhasari (abad 12 Masehi) maupun era yang lebih tua yaitu Kabudhan (abad 10 Masehi).

Salah satu wedhung temuan sungai tangguh estimasi Singhasari

Khanjar bahkan diduga merupakan prototype/bentuk awal keris karena telah memenuhi kriteria unsur Trinitas yaitu Wilah-Gonjo-Pesi sebagai senjata tikam pendek.

Salah satu Khanjar temuan Sungai Brantas (sudah termahar)

Berbeda dengan Wedhung, senjata Khanjar memiliki gonjo seperti halnya keris dan pesinya terletak di tengah wilah.

Khanjar temuan Sungai Brantas

Bukti keberadaan Wedhung sejak lama juga terpampang pada relief candi Penataran (abad 13-14 M) dimana terukir senjata Wedhung. Sedangkan senjata Khanjar tampak pada genggaman arca Siwa Bhairawa yang ditemukan di Malang, yang saat ini menjadi koleksi Rijksmuseum voor Volkenkunde Leiden di Belanda.

Menjelang masa akhir kerajaan Majapahit, dan dimulainya era Kerajaan Demak Bintoro, kekacauan dan ketegangan politik menghantui rakyat sipil, menyebabkan senjata Wedhung yang lebih fungsional mulai banyak diproduksi daripada Keris yang lebih bersifat “senjata psikis”.

Penampakan Wedhung estimasi Tangguh Demak

Pembuatan keris jaman Demak diperkirakan tetap berlangsung namun dalam skala kecil sekali dan tidak diprakarsai oleh Raja. Hal ini jugalah yang menjadi penyebab kenapa Keris tangguh Demak termasuk sulit ditemui hingga saat ini.

Indikasi bahwa Wedhung berkembang di pesisir pantai utara Jawa (pusat Kerajaan Demak Bintoro) adalah aksesori warangkanya yang indah dengan tangkai dari bahan Penyu. Pada jaman berikutnya bahan Penyu diganti dengan bahan tanduk kerbau. Rakyat Kerajaan Demak Bintoro maupun pengikut Sunan Giri, jika terjadi perlawanan fisik melawan prajurit Kerajaan Majapahit, mereka bersenjata pedang dan menyelipkan Wedhung (bukan Keris) pada ikat pinggangnya sebagai identitas prajurit elit daerah pesisiran.

Lambat laun Wedhung mulai digarap Empu dengan teknik pelipatan besi dan lapisan dari bahan meteor yang disebut pamor, seperti halnya pembuatan Keris. Jenis pamor yang sering ditemukan adalah pamor Wos Wutah dan Wiji Timun. Wedhung berpamor Wiji Timun konon hanya boleh dimiliki pejabat kerajaan Demak Bintoro. Wedhung buatan Empu disertai ricikan dan gusen yang indah. Kebutuhan seni, mengubah Wedhung yang sebelumnya berbentuk sederhana dan berfungsi sebagai senjata tebas (karena situasi kacau saat itu) mulai bertransformasi menjadi benda seni yang diagungkan seperti halnya budaya Keris.

Pembuatan Wedhung berkualitas oleh Empu juga mengikuti kaidah condong leleh Keris

Wedhung berkembang menjadi status simbol dalam Keraton, ditandai dengan terciptanya Wedhung kecil dengan ukuran kurang dari 25 cm yang disebut Pasikon. Wedhung kecil Pasikon ini menggeser fungsi senjata tebas menjadi senjata psikis seperti halnya sebilah Keris. Pasikon pada waktu itu hanya boleh oleh Raja maupun petinggi kerajaan. Maka tidak heran setelah era kerajaan Demak Bintoro, raja-raja Jawa melengkapi busananya dengan Pasikon yang mudah dibawa.

Dalam bukunya The History of Java, Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jendral Inggris yang berkuasa pada 1811-1816, menyebut, bahwa seseorang yang akan menghadap Pangeran, apapun pangkat dan gelarnya, harus mengenakan celana dari sutera atau kain halus tanpa kancing dan sebagai pengganti kain atau jarit, dia harus memakai dodot, yaitu kain lebar yang ……..Dia hanya membawa satu keris yang ditempatkan di punggung kanan belakang, dimana pada sisi kirinya membawa WEDHUNG….Dia mengenakan kuluk yang mulai diperkenalkan oleh Sultan Pajang.

Wedhung temuan Sungai Brantas, nampak telah diberi sandangan

Pada jaman Mataram, wedhung dihiasi pamor yang variatif. Perkembangan seni pada wedhung terlihat adanya penambahan kaligrafi Islam di bilahnya dengan teknik menempelkan tatahan rumit terbuat dari emas.
Budaya Wedhung mengalami puncaknya pada jaman keraton Surakarta/Sinuhun Paku Buwana. Wedhung banyak dibuat dan dihadiahkan kepada petinggi-petinggi istana dalam wilayah kekuasaannya.


Bahkan pada jaman Sinuhun Paku Buwana X (abad 18 M), Wedhung sempat dipakai sebagai bahan ujian untuk para empu yang akan diresmikan oleh raja menjadi empu andalan keraton sebagai simbol janji kesetiaannya. Pada masa itu empu mas Ngabei Japan juga membuat wedung yang indah (sumber: The World of The Javanese Keris; Garreftandronwen Solyom).

Wedhung menjadi bagian dari budaya keris yang penting karena oleh raja Paku Buwana X, wedhung  dianggap sebagai karya agung yang spesifik, antara lain di dalam buku Koninklijke Geschenken Uit Indonesie, oleh Rita Wassing-Visser; disebutkan:

“Wedhung, senjata yang disandang di pinggang kiri depan oleh putra raja dan petinggi istana. Bentuk pegangannya bersegi lima, warangka dari kayu berwarna lebih muda dengan 4 lingkaran (ring) terbuat dari emas, dihiasi ornamen sumping (palmet dari emas) dengan initial PB X. Di sisi belakang ada penjepit panjang berbentuk tangkai seperti sendok sepatu dari tanduk kerbau. Wedhung pernah dihadiahkan kepada rafu Wilhelmina oleh Sri Susuhunan Paku Buwana X, saaf penobatannya pada tahun 1898…”.

Wedhung estimasi Tangguh Kartasura

Wedhung biasa (untuk rakyat) juga dipakai oleh para abdi dalem dalam upacara resmi, sebagai ungkapan pengabdian kepada istana. Bahkan disakralkan menjadi simbol pengabdian manusia kepada Tuhan Yang Kuasa.

Makna Ricikan Keris Menurut Serat Centhini

Sebagaimana kita ketahui bahwa serat Centhini menjadi semacam Ensiklopedia Jawa paling lengkap yang pertama kalinya ditulis oleh bangsa kita, karena serat Centhini banyak memuat ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh orang Jawa pada awal abad ke-19. 

Salah satu ilmu pengetahuan orang Jawa yang tercantum di serat Centhini adalah ilmu tentang Tosan Aji termasuk keris, bahkan satu-satunya naskah tertua yang lengkap dan otentik tentang ilmu pengetahuan tentang keris. Pada kesempatan ini saya akan menyampaikan makna ricikan Keris menurut Serat Centhini. Ricikan adalah bagian-bagian atau komponen keris, yang masing-masing mempunyai nama. Ricikan sebilah keris dapat dibandingkan dengan suku cadang atau komponen mobil. Di antara suku cadang mobil terdapat namanya piston, garden, dashboard, roda, jok, dan lain sebagainya. Demikian pula setiap bagian keris berlainan bentuknya dan berlainan pula namanya. Lengkap atau tidaknya ricikan ini, akan menentukan nama dhapur sebilah keris.

Seseorang tidak akan mampu mengetahui nama dhapur dan menangguh Keris, apabila tidak memahami soal ricikan Keris ini.

Langsung saja saya sampaikan makna dan arti ricikan Keris sebagaimana tercantum di Serat Centhini, tentunya disertai foto ricikan Keris yang saya koleksi sampai dengan tulisan ini dibuat sbb:

Ricikan Bawang Sebungkul dan Kruwingan

Bawang Sebungkul:

Mengiaskan kemaluan wanita/rahim, yakni tempatnya Betal Mukadas atau tempat penyucian.

Kruwingan:

Maksudnya agar sosok tubuh/badan kita senantiasa ditata, agar selalu pantas/patut atau serasi dan enak dipandang.

Ricikan Gandhik, Tikel Alis, Wadidang dan Tungkakan,

Gandhik:

Artinya titian jantung yang mampu menimbulkan lahirnya nafsu birahi manusia.

Tikel Alis:

Mengiaskan tiga nafsu hati agar suci dan selamat (rahayu) yakni sabar, rela dan maklum.

Wadidang dan Tungkakan:

Wadidang maksudnya kaki kita yang menguasai tubuh kita. Tungkakan, artinya kemauan manusia. Tidak boleh kalah dengan kemauan untuk menang sendiri/tidak boleh kalah dengan ego kita sendiri.

Ricikan Gonjo atau Ganja Keris

Ganja/Gonjo:

Hanya Allah SWT paling luhur, Kanjeng Rasul adalah Nabi penutup utusan Allah, Nabi pemimpin dunia serta kekasih Yang Maha Agung. Keduanya merupakan tanda keberadaan Gusti dan hambanya. Keduanya merupakan satu wujud, disebut satu namun sebenarnya dua, disebut dua nyatanya satu.

Ricikan Jalen dan Pamor Keris

Jalen:

Jalen artinya hidup kita jangan sampai terpukau, karena kita semua pasti akan kembali ke asalnya yaitu Tuhan.

Pamor:

Artinya di dalam otot kita memancar cahaya Nur Buwat, menandakan bahwa asal hidup kita benar-benar suci dan bening.

Ricikan Kembang Kacang dan Lambe Gajah

Kembang Kacang:

Maknanya Gunung Tursina yang mengetahui keluar masuknya nafas melalui hidung, merupakan  tanda adanya Kawula/Hamba dan Gusti/Allah.

Lambe Gajah:

Sebenarnya adalah mulut kita, merupakan tempatnya Insan Kamil, tempatnya pengucapan Hyang Agung menjadi kenyataan, yaitu sabda Kun Fayakun.

Ricikan Pejetan/Blumbangan dan Sraweyan

Pejetan:

Disebut juga blumbangan oleh para Sutresna Keris. Maknanya ibu jari kita yang mampu/kuat menyangga pekerjaan dalam mencari penghidupan.

Sraweyan:

Artinya musibah atau murka Allah.

Ricikan Pesi

Pesi: Artinya pusar, merupakan keadaan dalam hati kita yang sebenarnya.

Ricikan Sirah Cecak dan Kepet/Buntut Cecak

Sirah Cecak:

Adalah betal makmur atau kepala manusia. Artinya di situlah asal mulanya segala kesenangan dan  ingatan manusia.

Kepet/Buntut Cecak:

Kepet disebut juga Buntut Cecak artinya telapak tangan kita sebagai tali cambuk manusia.

Ricikan Sogokan Keris

Sogokan:

Artinya di dalam poros/sumbu tiang manusia mampu membuka tabir 9 (Sembilan) lubang hawa nafsu yaitu 2 (dua) mata, 2 (dua) lubang hidung, 2 (dua) lubang telinga, 1 (satu) mulut,  zakar dan rahim (kemaluan wanita).

Waja dan Wesi Keris

Waja dan Wesi:

Waja/Baja adalah tulang yang memperkuat tubuh kita. Wesi/Besi artinya daging kita selama hidup di dunia.

Makna dan Rahasia Dhapur Keris Menurut Serat Centhini

Serat Centhini mulai ditulis tanggal 11 Januari 1815 oleh Tim yang dibentuk oleh Raden Mas Sugandi yang menjadi Putera Mahkota Karaton Surakarta Hadiningrat yang bergelar Adipati Anom Mangkunegoro. Beliau akhirnya diangkat menjadi raja Karaton Surakarta Hadiningrat dengan gelar Sri Susuhunan Pakubuwono V, yang hanya memerintah selama 3 (tiga) tahun yaitu mulai tahun 1820-1823. Pakubuwono V mempunyai julukan Sunan Sugih, yang artinya Raja yang kaya harta, juga pernah membuat keris dari pecahan meriam pusaka Kyai Guntur Geni, dimana meriam tersebut pecah saat Perang Geger Pacinan. Keris tersebut diberi nama Kanjeng Kyai Kaget.

Tim penulis dari serat Centhini yang diprakarsai oleh Putera Mahkota terdiri dari Kiai Ngabehi Ronggosutrasno, Kiai Yosodipuro II, dan Kiai Sastrodipuro. Dalam mengumpulkan data, anggotanya menjelajahi tanah Jawa mulai Jawa Barat/Anyer, Jawa Tengah, sampai dengan Banyuwangi/Jawa Timur. Karena serat Centhini banyak memuat ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh orang Jawa pada awal abad ke-19, maka tak heran serat Centhini menjadi semacam Ensiklopedia Jawa paling lengkap yang pertama kalinya ditulis oleh bangsa kita. 

Salah satu ilmu pengetahuan orang Jawa yang tercantum di serat Centhini adalah ilmu tentang Tosan Aji termasuk keris, bahkan satu-satunya naskah tertua yang lengkap dan otentik tentang ilmu pengetahuan tentang keris.

Pada tulisan kali ini saya coba menyampaikan beberapa makna, murad, dan rahasia dhapur keris yang tercantum di Serat Centhini, namun dengan keterbatasan yang saya miliki yaitu sesuai dengan dhapur keris yang saya miliki atau pernah saya miliki saja. Untuk memperjelas bahasa di Serat Centhini yaitu Bahasa Jawa,  yaitu sebagai berikut:

  1. Makna yaitu arti atau maksud.
  2. Murad yaitu keterangan arti.
  3. Rahsa yaitu rahasia.

Oke, langsung saja beberapa dhapur keris beserta makna, murad dan rahsa berdasarkan Serat Centhini adalah sebagai berikut:

Keris dhapur Tilam Upih

Maknanya kiasan, muradnya perempuan. Rahasianya dalam memikirkan keris hendaknya seperti memikirkan atau memperhatikan istri kita.

Keris Tilam Upih Tangguh Majapahit

Keris dhapur Brojol

Maknanya kemauan kita, muradnya yang sudah diucapkan. Rahasianya hendaknya sedikit berbicara. Sebelum berbicara hendaknya dipikir dahulu, apakah sesuai hati nurani kita dan jangan mudah mengeluarkan kata-kata yang tidak perlu.

Keris Brojol Tangguh Pajajaran

Keris dhapur Jalak Tilam Sari

Maknanya tutup, muradnya orang tidur. Rahasianya janganlah berpisah dengan senjata anda dalam kondisi bangun maupun tidur, baik siang maupun malam. Singkatnya kita harus waspada di dalam segala kondisi.

Keris Jalak Tilam Sari Tangguh Cirebon

Keris dhapur Jalak Dindhing

Maknanya hijab atau tirai, muradnya tiga hal. Rahasianya manusia harus sering menyebut Allah, Muhammad dan Rasulullah.

Keris Jalak Dindhing Tangguh Tuban Mataram

Keris dhapur Jalak Sangu Tumpeng

Maknanya tempat keyakinan, muradnya rejeki Allah. Rahasianya jangan khawatir tidak mendapatkan makan, Allah Maha Murah dan Maha Pengasih.

Keris Jalak Sangu Tumpeng Tangguh Majapahit

Keris dhapur Sengkelat

Maknanya hati yang menyala, muradnya perbuatan luhur. Rahasianya siang dan malam, dalam keadaan bangun/tidak tidur, maupun saat tidur, manusia harus bertindak atau bertingkah laku sesuai ukuran.

Keris Sengkelat Tangguh Mataram Senopaten

Keris dhapur Sabuk Inten

Maknanya permata yang indah, muradnya hati anda. Rahasianya kemuliaan seseorang itu harus disertai dengan perilaku yang penuh sopan santun serta cermat.

Keris Sabuk Inten Tangguh Mataram

Keris dhapur Sempono

Maknanya mimpi, muradnya paham ilmu pengetahuan. Rahasianya manusia harus mempunyai perkiraan bagaimana baiknya sebuah urusan, tanpa melupakan rasa waspada baik di waktu siang maupun malam.

Keris Sempono Tangguh Mataram

Keris dhapur Pandhawa Cinarita

Maknanya 5 (lima) wujud, muradnya ajaran orang tua. Rahasianya orang harus memahami bahwa heningnya panca indera itu asalnya dari sabar, menerima apa adanya, dan jauh dari angkara murka.

Keris Pandhawa Cinarita Tangguh Mataram Senopaten

Keris dhapur Condhong Campur

Maknanya tercampur atau bersatu, muradnya hati yang bijaksana. Rahasianya orang harus pabdai bergaul dengan orang lain, jangan mudah sakit hati, sabar dan terus berwajah manis.

Keris Condhong Campur Tanggh Mataram
Koleksi yang lain juga Keris Condhong Campur Tangguh Mataram

Keris dhapur Carubuk

Maknanya tanah, muradnya mau menerima dengan kuat sentosa. Rahasianya hendaknya jangan hanya mau menerima yang baik saja, namun juga harus mau menerima yang buruk dari seseorang.

Keris Carubuk Tanguh Majapahit